BNN RI Musnahkan13.000 Batang Ganja di Aceh Utara

BNN RI Musnahkan13.000 Batang Ganja di Aceh Utara

Spread the love

Minangpos.net, Aceh – Badan Narkotika Nasional BNN kembali  melakukan operasi ladang ganja. BNN bersama tim gabungan dari aparat penegak hukum wilayah Provinsi Aceh menemukan dua titik ladang ganja. Luasnya mencapai 1 hektar di Dusun Alue Garot Desa Teupin Reusep Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Melibatkan 119 personel, petugas berhasil menemukan ladang ganja pada ketinggian 222 mdpl dan 240 mdpl.

Beberapa jajaran pemerintah daerah turut hadir dalam pemusnahan ladang ganja salah satunya Kodim, Polres Lhokseumawe, Brimob, Satpol PP, Dinas Pertanian, Ditjen Bea dan Cukai, serta Kejaksaan Negeri, di bawah pimpinan Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Aldrin MP Hutabarat.

Menggunakan kendaraan roda empat, tim gabungan menempuh waktu 1.5 jam dari Lhokseumawe kemudian berjalan kaki selama 1,5 jam. Sebanyak 13.000 batang tanaman ganja atau seberat 6,5 ton berhasil ditemukan petugas.

Saat gelar siaran pers pemusnahan ladang ganja Aldirn MP Hutabarat, Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN menyebutkan, usia pohon ganja berkisar 4 hingga 5 bulan dengan tinggi tanaman variatif, antara 50 sampai dengan 250 cm.

“Usia tanaman berkisar empat sampai lima bulan. Tingginya bervariatif, antara 50 sampai dengan 250 cm”, ujarnya.

Aldrin menambahkan bahwa saat ini BNN masih memiliki banyak target penyelidikan. Salah satunya Kabupaten Bireun, Gayo Lues, Aceh Selatan, dan beberapa tempat lainnya.

Untuk meminimalisir penyalahgunaan Narkotika, BNN juga tengah mengupayakan program kerja prioritas nasional, Grand Design Alternative Development (GDAD). Program ini bertujuan memberikan edukasi dan mempersuasif masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkotika.

“Secara garis besar program tersebut merupakan program alih fungsi lahan ganja dan alih profesi. Program ini juga melibatkan Bapenas, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Pemerintah Daerah, dan Instansi Pemerintah Lainnya”, jeals Aldrin.

Aldrin juga menegaskan bahwa program tersebut merupakan implementasi Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Kehadiran kami untuk mengedukasi masyarakat bahwa, ganja adalah tanaman ilegal. Hal ini tercantum dalam UU Indonesia tentang narkotika”, tegas Aldrin.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *